Thursday, March 22, 2012

PERILAKU AGONISTIK IKAN CUPANG

PERILAKU AGONISTIK IKAN CUPANG (Betta splendens)
Diajukan Untuk memenuhi Mata kuliah
Praktikum Biologi Perilaku

Nama Asisten Dosen
Adawiyah
Risda
Zul Fadli
Logo Baru UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Kelompok 5B
Tanggal Praktikum: 14 Maret 2012
Nama : Hana Humaeriyah
Nim: 1209702016
Tanggal Pengumpulan : 21 Maret 2012



JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
2012
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang  
Di beberapa Negara, terutama di Indonesia. Ikan banyak dimanfaatkan sebagai makanan, hobi, maupun dalam hal pertandingan atau perlombaan. Disini, akan kami coba untuk mengambil salah satu jenis ikan, dan melakukan pengamatan ikan secara agonistik. Perilaku agonistic ialah salah satu bentuk konflik yang menunjukan perilaku/ postur tubuh/ penampilan khas yang melibatkan mengancam, perkelahian, melarikan diri dan diam antara individu dalam populasi.
Pemilihan Ikan cupang ini karena ikan cupang memiliki sikap keagresifan yang cukup tinggi. Sehingga dalam pengamatan nya akan lebih terlihat dengan jelas dalam kurun waktu yang cukup singkat. baik secara instinctive maupun perilaku terlatih, ikan cupang memiliki karakteristik respon agresif. Dalam suhu air yang berkisar antara 24-29oC, ikan cupang merupakan ikan yang sangat aktif.

1.2  Tujuan
Tujuan praktikum ini yaitu untuk mengamati perilaku agonistic diantara ikan cupang jantan

1.3  Hipotesis  
Ikan cupang dianggap memiliki tingkat agonistic yang cukup tinggi. Setiap hitungan waktu yang singkat, kita dapat dengan mudah mengamati setiap perubahan gerakan yang terjadi.
Ikan cupang terbagi atas ikan cupang hias dan ikan cupang adu, Perbedaan diantara ikan cupang tersebut, dapat terlihat secara morfologinnya. Perbedaan diantara 2 jenis ikan cupang, sangat berpengaruh terhadap gerakan agonistic tiap individu. Perbedaan agonistic pada ikan cupang, dapat pula kita lihat dari jenis kelamin ikan cupang
a. Ikan Betta splendens memiliki bentuk tubuh memanjang, memiliki lima jenis sirip,dan berwarna mencolok 
b. Ikan Betta splendens menunjukan perilaku agonistik ketika melihat bayangan dirinya di cermin
c. Individu dominan ditentukan oleh jenis ikan



BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Ikan Betta splendens merupakan ikan yang memiliki banyak bentuk (Polimorphisme), seperti ekor bertipe mahkota crown tail, ekor penuh full tail dan bertipe slayer, dengan sirip panjang dan berwarna-warni. Keindahan bentuk sirip dan warna sangat menentukan nilai estetika dan nilai komersial ikan hias Betta splendens Menurut Kottelat et al, (1996) penampakan warna pada jenis ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis kelamin, kematangan gonad, genetik dan faktor geografi.
Ikan hias Betta splendens disebut juga ikan laga fighting fish atau ikan cupang. Ikan jantan memiliki warna mencolok, sirip panjang dan ukuran tubuh lebih kecil dibanding betinanya (Susanto & Lingga 1997). Ikan Betta splendens jantan memiliki nilai komersial tinggi sehingga sangat disukai dan diburu oleh pecinta ikan hias. Salah satu kendala budidayanya adalah untuk mendapatkan ikan jantan cenderung lebih sukar, karena jumlah benih jantan yang diperoleh setiap pemijahan sangat rendah dan kualitasnya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Agar produksi benih ikan sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang diharapkan, diperlukan informasi dan data tentang aspek biologi reproduksi ikan Betta splendens di habitat buatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek biologi reproduksi ikan Betta splendens meliputi, fertilitas, daya tetas, laju pertumbuhan dan mortalitas benih ikan Betta splendens di habitat buatan.
Betta splendens atau yang lebih dikenal dengan  nama  ikan cupang. Ikan jantan sangat agresif dan memiliki kebiasaan  saling  menyerang  apabila ditempatkan  dalam satu wadah  (Ostrow, 1989).
Habitat ikan ini di perairan  tawar  seperti, danau dan rawa, tetapi  saat ini sudah  banyak  dibudidayakan.Perkembangbiakan  Betta splendens bersifat bubblenester,  yaitu membuat  sarang  busa sebelum  berprjah dan telur-telur  dimasukkan  ke dalamnya  (Linke, 1994; Sanford,1995).
Seperti hannya dalam literatru dijelskan, “Perilaku agonistik merupakan salah satu bentuk konflik yang menunjukkan perilaku atau postur tubuh atau penampilan yang khas (display) yang melibatkan mengancam (threat), perkelahian (fighting), melarikan diri (escaping), dan diam (freezing)antarindividu dalam populasi atau antarpopulasi. Invidu yang aggressive dan mampu menguasai arena perkelahian (teritori) akan memunculkan individu yang kuat (dominan) dan lemah (submissive/ subordinat). (djuanda, 2001).
Menurut hasil penelitian peter K. Mcgregon, ada sifat yang ditimbulkan dari ikan cupang jantan. Dimana, pada ikan cupang jantan ini, memiliki sifat daya perhatiannya terhadap ikan cupang betina cukup tinggi. Sinyal yang ditimbulkan saat ikan cupang jantan berhadapan dengan ikan cupang betina, yaitu dengan mengibaskan ekor sirip derngn frekuensi yang cepat. (peeter, 2000).
Keagresifan lain pada ikan cupang ini, dipisahkan menjadi appetitive, kawin dan pasca kawin (klein, figler and peek 1976). Komponen yang appetitive ini, ditandai dengan perilaku kejenuhan warna tubuh, ereksi penutup overculum, atau insang, orientasi dan gerakan karakteristik (simpson, 1968). Komponen termasuk menggigit, mengunci rahang antara lawan dan mencolok ekor. Respon yang ditunjukan oleh ikan cupang dari tiap individu, yang berkaitan dengan pembuahan, dapat kita amati dengan uji menggunakan model subjek dalam aquarium yang diberi sekat cermin. Dengan memperhitungkan durasi, dan frekuensi demonstrasi merupakan presiktor dan perkelahian yang nyata. (peter, 2000).
Menurut (Fauzi, 2011). Secara morfologi, bentuk sirip ikan cupang hias lebih lebar dan besar. Ikan cupang hias pun memiliki warna yang lebih mencolok daripada ikan cupang adu. Ikan cupang memiliki tubuh lonjong dibagian depan sedikit membulat dan memipih di bagian belakang. Badan dan kepala bersisik. Tubuh terdiri dari sirip ventral, sirip dorsal, sirip anal, sirip kaudal dan sirip pectoral.  
Perilaku agonistik adalah perilaku yang berhubungan dengan agresivitas dan konflik, termasuk berkelahi, melarikan diri, diam, dan beragam ancaman yang terjadi antar individu dalam suatu populasi Terdapat sepuluh perilaku agonistik yang dapat dideskripsikan, yaitu menjelajah (explore), mendekati (approach), bergerak memutar (circle), mengancam dari samping (side threat), mengancam dari depan (frontal threat), mengibaskan ekor (tail flagging), mengejar (chase), kontak mulut (mouth-to mouth contact), menggigit (bite), dan melarikan diri (flight). (Campbell et al., 2003 dan Lehner, 1996).
Menurut (Amaouri, 2007) kegemaran berkelahi Ikan cupang adu akan semakin memuncak apabila ikan cupang diletakkan di baskom, akuarium, toples, atau tempat pemeliharaan lain. Hal ini dikarenakan ikan cupang telah terbiasa hidup di tempat yang lebih nyaman bila dibandingkan dengan selokan atau tempat lainnya. Ketika melakukan pertarungan, ikan cupang jantan menghampiri lawan tandingnya. Kemudian ikan cupang jantan mempertontonkan sirip pada musuhnya. Sirip yang semula terlihat lemas dalam hitungan detik akan mengembang. Tidak hanya sirip yang dipertontonkan, tetapi sirip cadangan lain yaitu membrana branchiostegi dan tutup insang pada lengkungan leher juga ikut mengembang.




BAB 3
METODE KERJA

3.1 Alat dan Bahan  
Alat
Bahan
Botol Kecil
Air
Cermin
Ikan cupang
Aquarium

Stop watch

Penanda tagging


3.2 Cara Kerja  
1. Pengamatan morfologi
Ikan cupang
diamati   fisik ikan
catat hasil
dibandingkan      antar beberapa individu
hasil pengamatan

2. Pengamatan persiapan dan tagging 
Persiapan
Aquarium
diisi ¾ air + bagi   2 bagian termin
pisah dengan cermin
tiap kompartemen, diisi ikan cupang
hasil pengamatan

Pengamatan 1
Ikan cupang
        dimasukan ke slah satu      kompartemen dlm aquarium
catat perilaku ikan cupang
lakukan selama     5 menit
hasil pengamatan

 Pengamatan 2
2        ikan cupang terpisah kompartemen
pembatas/     cermin dilepas
hitung waktu sebagai waktu ke-0
   tunggu hingga  5 menit
catat hasil perilaku yang terjadi

Pengamatan 3
ikan cupang dominan
lakukan seperti     pengamatan 2
hasil pengamatan


BAB 4
PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan  
Untuk praktikum kali ini, ada beberapa morfologi dan tingkah laku ikan cupang yang muncul dalam kurun waktu 5 menit. Ikan cupang yang diamati ialah jenis cupang adu dan cupang hias. Ada beberapa parameter perilaku agonistic yang ditimbulkan ikan cupang yang diketahui.  
1.      Pengamatan morfologi
Untuk pengamatan secara morfologi, kami mencoba untuk mengidentifikasi baik dari bagian ventral, dorsal, anal, maupun bagian depan. DIsini, kmai mengambil 4 cupang, agar lebih memudahkan, kami membuat kode di tiap ikan cupang, dengan kode A, B, C, D. 

Ikan Cupang A
Warna Sirip: biru orang, bentuk sirip memanjang rapat
warna tubuh: hitam keunguang, kepala warna hitam.
Pada ikan ini, memiliki guratan sisi seperti berbentuk
aga jajar genjang. diidentifikasi merupakan betina
sirip ekor berbentuk lumayan membulat



Ikan cupang B
 

Warna Sirip: Hijau menyala, bentuk sirip memanjang rapat
warna tubuh: pink, corak hitam. kepala warna hitam
tiap guratan sisi berbentuk seperti bentuk oval,
diidentifikasi merupakan jantan, sirip ekor aga membulat


 

Ikan cupang C
warna sirip : Hijau corak merah, bentuk sirip melebar
warna tubuh : Pink corak Hitam, kepala hitam
tiap guratan sisi aga berbentuk segi 6.
sirip ekor membulat aga lebar
diidentifikasi merupakan betina

Ikan cupang D
Warna sirip: Pink keemasan ,bentuk sirip melebaar
Warna tubuh: pink corak hitam, kepala warna pink
memiliki tiap guratan sisi bentuk oval.
diidentifikasi merupakan ikan jantan




2.      Pengamatan persiapan dan tagging
Pada pengamatan ini, kami mencoba mengukur seberapa jauh tingkat keagresifan individu cupang. Hal ini dilakukan dengan cara mengisi  air ¾ bagian jadi 2 kompartemen yang disekat dengan cermin, dan diidentifikaasi setiap perilaku yang muncul selama 5 menit.
Untuk perilaku secara agonistic, ada beberapa yang diamati. Untuk memudahkan, kami mengkode tiap perilaku yang muncul antara lain:

1.      Approach (mendekat, berenang)
2.      Bite (menggigit lawan)
3.      Chase (mengejar lawan)
4.      Frontal Threat ( mengancam lawan dari depan)
5.      Side Threat ( mengancaam lawan dari samping)
6.      Mouth to mouth contact ( kontak mulut ke mulut antar dua individu)
7.      Flight ( melarikan diri )
8.      Tail flagging ( Mengibaskan ekor)
9.      Circle ( memutar)
10.  Exploration (berjalan) 


MIS
Kmpk
Individu
Latensi
Banyak Prilaku ke-
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
1
A
15s
2
0
0
1
1
3
0
13
9
9
B
10s
6
0
0
1
7
3
0
9
6
11
C
5s
8
0
0
1
2
0
0
8
4
3
D
6s
3
0
0
34
13
7
0
3
3
3
2
A
4s
10
2
0
1
0
1
0
11
12
4
B
3s
25
0
0
19
20
0
0
2
15
0
C
2s
13
0
0
5
2
0
0
20
17
0
D
1s
18
1
0
1
1
0
0
20
14
1
3
A
1s
2
0
0
9
11
1
0
12
8
2
B
6s
0
0
0
20
16
3
0
25
5
7
C
2s
0
0
0
42
16
0
0
60
13
0
D
1s
0
0
0
2
2
0
4
3
2
11
4
A
5:7s
0
1
0
3
8
21
0
5
0
20
B
4:76s
1
1
1
10
8
5
0
22
0
10
C
6:7s
3
0
3
3
12
12
9
20
0
12
D
3:7s
5
3
0
16
25
24
0
10
0
8
5
A
6s
7
0
0
4
7
0
0
0
8
8
B
4s
3
0
0
3
5
0
1
0
4
7
C
6s
4
0
0
9
8
0
0
6
3
6
D
5s
4
0
0
26
30
0
0
0
4
8
Total
80
8
4
215
194
80
14
278
127
130
Rataan
4
0.4
0.2
10.75
9.7
4
0.7
13.9
6.35
6.5






Dari data yang kami dapatkan diatas, untuk mengetahui perilaku mana yang dominan muncul, kami mencoba untuk menganalisisnya dalam sebuah bentuk statistic, menggunakan uji Annova satu arah.
ANOVA
Frekuensi






Sum of Squares
Df
Mean Square
F
Sig.
Between Groups
3978.000
9
442.000
7.682
.000
Within Groups
10931.500
190
57.534










Total
14909.500
199




Dari hasi uji anova diatas, menunjukan signifikan hasil signifikan 0,000. Dimana itu artinya terlihat perbedaan yang berbeda nyata. sehingga diperlukanlah uji lanjut. Uji lanjut yang kami gunakan yaitu dengan uji Duncan, karena dalam uji ini, akan terlihat secara detail perbedaan yang jelas dari setiap perlakuan.
Frekuensi
Duncan




Agonistik
N
Subset for alpha = 0.05
1
2
3
4
3
20
A    .2000



2
20
A    .4000



7
20
A    .7000



1
20
A  4.0000
Ab 4.0000


6
20
A  4.0000
Bb 4.0000


9
20

B  6.3500
Bc  6.3500

10
20

B  6.5000
Bc  6.5000

5
20


C    9.7000
Cd   9.7000
4
20


C  10.7500
Cd 10.7500
8
20



 D 13.9000
Sig.

.163
.350
.096
D       .100
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.

















Setelah melakukan uji Duncan, signifikan yang dihasilkan ialah 0,1 yang artinya bahwa meghasilkan data yang tidak berbeda nyata. Data diatas pula, terlihat bahwa perilaku yang sering muncul pada keseluruhan cupang uji ini yaitu Tail flagging ( Mengibaskan ekor). Sedangkan yang rendah dalam hkemunculan perilakunnya yaitu Chase (mengejar lawan).

3.      Pengamatan perkelahian sesungguhnya
Pada pengamatan ini, kami melakukan pertandingan antar cupang, untuk mengetahui cupang yang dapat dinyatakan sebagai superordinat (dominan), maupun sub ordinat. Langkah awal yaitu mencoba cupang A Vs B, kemudian C Vs D, dilanjut dengan menandingkan antara cupang yang menang, di kedua pertandingan awal. Kemudian, mempertandingkan cupang yang dianggap kalah dalam dua pertandingan awal.

Perkelahian Sesungguhnya
A Vs B
Individu
Latensi
Banyak Prilaku ke-
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
A
25
0
0
1
0
0
0
7
10
5
11
B
25
0
0
2
8
0
0
0
3
2
14

 Dari pertandingan kelompok kami antara A Vs B, dimenangkan oleh ikan cupang B.

C Vs D
Individu
Latensi
Banyak Prilaku ke-
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
C
12
0
0
0
0
0
0
19
21
4
6
D
12
0
0
9
26
2
0
0
0
2
8

Dari pertandingan C Vs D, dimenangkan oleh ikan cupang D
Setelah melakukan pertandingan diantara 2 individu, kami mencoba menandingkan antara individu yang menang-menang dan kalah melawan kalah

Menang Vs Menang
individu
latensi
perilaku


1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
B
11
5
0
2
11
0
0
5
12
21
11
D
11
5
0
3
6
0
0
4
0
3
12

Dari pertandingan menang lawan menang ini (B Vs D), dimenangkan oleh ikan cupang B

Kalah Vs kalah
indiviu
latensi
perilaku
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
A
2
0
0
0
7
0
0
36
18
7
11
C
2
3
0
7
31
4
0
0
2
3
11

Dari pertandingan kalah lawan kalah (A Vs C) dimenangkan oleh ikan cupang C

4.2 Hasil Grafik   
Hasil Grafik Uji Duncan
MIS
 
seperti pada hasil Anova dan diikuti uji Duncan diatas, ternyata setelah di tunjukan dengan grafik. Terlihat dengan jelas perilaku yang sering kali muncul atau dominan itu ditunjukan pada perilaku ke 8 atau Tail Flagging (mengibaskan ekor). sedangkan yang subordinat, ditunjukan oleh perilaku yang ke3 atau Chase (mengejar lawan)

Perkelahian A Vs B

Perkelahian C Vs D
untuk perkelahian antara ikan cupang ini, kami hanya mengambil hanya dari data kelompok kami sendiri. Disini, terbukti cukup jelas, bahwa yang mendominasi dalam menyerang lawan (4), ditunjukan pada ikan cupang D. sedangkan pada ikan cupang C, perilaku yang paling banyak dilakukan ialah mengibaskan ekor

Menang Vs menang
Disini, terbukti cukup jelas, bahwa yang mendominasi dalam menyerang lawan (4), ditunjukan pada ikan cupang B.Walau pun ikan cupang D, melakukan penyerangan, namun intensitas melawan individu lain lebih kecil dari ikan cupang B. Hasil dari pertandingan ini, menyatakan bahwa ikan cupang B, dapat mendominasi suatu populasi yang ada

kalah Vs kalah
 


4.3 Pembahasan dan Analisis
Praktikum kali ini, membahas perilaku agonistik ikan cupang. Uji yang dilakukan, yaitu dengan mengamati secara morfologi dan setiap perilaku yang ditimbulkan ikan cupang dalam kurun waktu 5 menit dalam sebuah aquarium. Ada dua jenis Ikan cupang yang diamati, yaitu ikan cupang adu dan ikan cupang hias. Ikan cupang adu (betta Spendens) merupakan anggota dari family antabantidae. antabantidae ini, merupakan satu-satunya family yang mencakup ikan berlabirin. memiliki tubuh lonjong bagian depan sedikit membulat dan memipih pada bagian belakang. Mulutnya dapat disembunyikan dengan lubang mulut terletak pada bagian depan kepala. Badan dan kepala bersisik kasar, Ikan betina berwarna kusam, tetapi ikan jantan punya warna tubuh yang metalit. Ikan cupang jantan maupun betina betina, punya gurat sisik gurat sisi 29-33 keping (Djuhanda, 2001).
Dalam prosedur praktikum kali ini, dibagi kedalam lima kelompok, yang diantaranya setiap kelompok terdapat 2 ikan cupang adu dan 2 ikan cupang hias. Yang pada akhirnya, seluruh data yang dihasilkan, di satukan dalam satu data.
Ikan cupang yang di amati, dilihat setiap morfologi maupun pergerakannya. Untuk hasil yang didapat, langkah awal yaitu dengan membuat data table, grafik, kemudian membuat frekuensi dalam sebuah anova. 

Pengamatan Morfologi  
Dari bentuk secara keseluruhan, setelah diamati bagian tubuh ventral, dorsal maupun anal, terlihat bahwa ikan cupang pada bagian ventral memiliki sirip dada, sirip perut. Sedangkan pada bagian dorsal, memiliki sirip punggung. Dan dibagian belakang, terdapat sirip ekor. Pada setiap ikan cupang yang kami amati, aga sedikit perbedaan diantara semuanya, yaitu bentuk guratan sisi pada ikan cupang semuanya berbeda.
Menurut (Fauzi, 2011), Secara morfologi, bentuk sirip ikan cupang hias lebih lebar dan besar. Ikan cupang hias pun memiliki warna yang lebih mencolok daripada ikan cupang adu. Ikan cupang memiliki tubuh lonjong dibagian depan sedikit membulat dan memipih di bagian belakang. Badan dan kepala bersisik. Tubuh terdiri dari sirip ventral, sirip dorsal, sirip anal, sirip kaudal dan sirip pectoral.
Dari pengamatan diatas, teridentifikasi bahwa ikan cupang A dan C, merupakan ikan cupang betina. sedangkan pada ikan cupang C dan D, merupakan ikan cupang jantan. Identifikasi ini, berdasarkan literature Ikan hias Betta splendens disebut juga ikan laga fighting fish atau ikan cupang. Ikan jantan memiliki warna mencolok, sirip panjang dan ukuran tubuh lebih kecil dibanding betinanya (Susanto & Lingga 1997). Ikan jantan sangat agresif dan memiliki kebiasaan  saling  menyerang  apabila ditempatkan  dalam satu wadah  (Ostrow, 1989).
Pada pengamatan pertama, yaitu 4 ekor cupang secarra morfologi. disini kami memberikan kode tiap ikan dengan ikan A, B, C, D
1.      pada ikan A, warna sirip cukup indah, dngan gradasi warna biru orange, dan memiliki bentuk sirip memanjang. Menurut literature,ikan ini betina walaupun terlihat indah, namun masih kurang terang, dibandingkan pejantannya.
2.      pada ikan B, memiliki warna yang cukup indah, dengan warna yang hijau menyala atau metalik. warna tubuh pink dengan memiliki corak hitam. Jenis ikan ini pejantan
3.      pada ikan C, dibandingkan dengan literature. jenis ikan ini merupakan betina. karena, dilihat dari cirri morfologinya, memiliki warna yang cukup terang, yaitu hijau corak merah, namun, masih terlihat gelap. sirip berbentuk melebar, warna tubuh hijau menyala, kepala berwarna hitam
4.      pada ikan D, memiliki warna sirip pink keemasan, sirip melebar, warna tubuh pink corak kehitaman. Jenis ikan ini merupakan pejantan. karena, dilihat dari cirri morfologinya, memiliki warna yang cukup terang,

Persiapan dan Tagging
Pada uji ini, seluruh kelompok menguji perilaku agonistic yang dihasilkan pada tiap ikan cupang yang dimiliki, dengan cara memasukan ikan cupang pada aquarium, dengan diberi batasan cermin pada aquariumnya. Setelah data dihasilkan, dalam 1 kelas, data diolah bersama, hingga mendapatkan rataan perilaku yang ditimbulkan ikan cupang dalam 1 kelas. Data yang didapat diolah dengan table, anova, selanjutnya dinyatakan dalam grafik.
1.      MIS
Dari hasil yang didapat, diolah dalam bentuk statistic menggunakan uji anova 1 arah. ternyata menghasilkan nilai signifikan 0.000 ( kurang dari 0,05). Itu artinya terdapat perbedaan nyata, dan perlu dilakukan uji lanjut. Uji yang dilakukan selanjutnya, yaitu melakukan uji Duncan, karena dalam uji ini, akan terlihat secara detail perbedaan yang jelas dari setiap perlakuan. setelah menggunakan uji Duncan, signifikan yang dihasilkan itu 0,1. Artinya, data yang sudah diolah sudah tidak berbeda nyata, dengan melihat hasil di uji duncan.
Dari hasil percobaan, terlihat bahwa perilaku yang sering muncul pada keseluruhan cupang uji ini yaitu Tail flagging ( Mengibaskan ekor). Sedangkan yang rendah dalam hkemunculan perilakunnya yaitu Chase (mengejar lawan).
Dari literature yang kami dapatkan, perilaku dominan yang muncul pada ikan cupang berupa mengibaskan ekor, karena secara keseluruhan ikan cupang yang diuji itu dominan jantan. Menurut hasil penelitian peter K. Mcgregon, ada sifat yang ditimbulkan dari ikan cupang jantan. Dimana, pada ikan cupang jantan ini, memiliki sifat daya perhatiannya terhadap ikan cupang betina cukup tinggi. Sinyal yang ditimbulkan saat ikan cupang jantan berhadapan dengan ikan cupang betina, yaitu dengan mengibaskan ekor sirip derngn frekuensi yang cepat. (peeter, 2000).
Sedangkan kemunculan yang paling kecil dimunculkan pada mengejar lawan. Hal ini membuktikan bahwa kebanyakan pada keseluruhan ikan cupang yang diamati ialah ikan cupang hias. Hal ini sesuai dengan literature, bila sifat dari cupang adu sendiri, memiliki seifat keagresifan yang tinggi. Serta daya saing untuk mendominasi suatu wilayah cukup kuat. (camble, 2003). Sedangkan pada uji ini, tingkat keagresifan ikan cupang dalam menyerang, intensitasnya sedikit.
2.      Perkelahian yang sebenarnya
Pada uji perkelahian yang sebenarnya ini, kami hanya mengambil data kelompok sendiri. Tanpa dibandingkan dengan kelompok lainnya atau data kelas. Pada perkelahian ikan cupang, kami mencoba untuk melakukan perkelahian antara A Vs B serta C Vs D.
a.       Dari hasil data table maupun grafik yang kami dapatkan antara  A Vs B. Ternyata B memiliki tingkat agonistic yang lebih tinggi daripada A. Di tunjukan dari keagresifan ikan cupang B. Dimana, terlihat adanya perilaku Frontal threat, atau menyerang yang cukup banyak pada ikan cupang B. sedangkan pada ikan cupang A, dominan melakukan perilaku mengibaskan ekor, melarikan diri, jaln-jalan. Untuk mengusir individu lain. Dari perkelahian ini, dominan B menguasai populasi yang ada.
b.      Dari pertandingan C Vs D, dimenangkan oleh ikan cupang D
Dari pertandingan kelompok kami antara C Vs D, dimenangkan oleh ikan cupang D. Dengan di tunjukan dari keagresifan ikan cupang D. Dimana, terlihat adanya perilaku Frontal threat yang cukup banyak pada ikan cupang D terhadap ikan cupang C. sedangkan pada ikan cupang C, dominan melakukan perilaku melarikan diri. Untuk menghindar dari serangan individu lain. Dari perkelahian ini, dominan D menguasai populasi yang ada.
perkelahian selanjutnya, yaitu menandingkan antara ikan cupang yang menang ( B vs D) dan yang kalah (A vs C).
a.       Dari pertandingan kelompok kami antara B Vs D, dimenangkan oleh ikan cupang B. Dengan di tunjukan dari lebih agresifnya ikan cupang B. Dimana, terlihat adanya perilaku Frontal threat, atau menyerang individu lain yang cukup banyak pada ikan cupang B. sedangkan pada ikan cupang D, dominan melakukan perilaku melarikan diri. Untuk menghindar dari serangan individu lain. Dari perkelahian ini, dominan D menguasai populasi yang ada.
b.      Dari pertandingan kelompok kami antara A Vs C, dimenangkan oleh ikan cupang C. Dengan di tunjukan dari lebih agresifnya ikan cupang C. Dimana, terlihat adanya perilaku Frontal threat, chase, atau menyerang individu lain yang cukup banyak pada ikan cupang C. sedangkan pada ikan cupang A, dominan melakukan perilaku melarikan diri, mengibaskan ekor. Untuk menghindar dari serangan individu lain. Dari perkelahian ini, dominan C menguasai populasi yang ada.
Diantara seluruh pertandingan, ikan cupang B, dapat memenangkan kompetisi. Dari data grafik pun, menunjukan, kalo ikan cupang kode B, cukup signifikan banyk melakukan prilaku  menyerang dibandingkan yang lain. Sedangkan, perilaku menghindar, mengibaskan ekor untuk mengusir individu lain. Banyak dilakukan oleh ikan cupang C.
Dari hasil praktikum kali ini, ikan cupang kode B, merupakan super ordinat. Karena ikan cupang ini memiliki kecenderungan agonistic yang tertinggi terhadap penyerangan dari ikan yang lainnya. Sedangkan pada ikan cupang C, merupakan subordinat. karena, setelah dilakukan perkelahian dengan ikan yang lainnya, selalu memiliki tingkat argonistik yang rendah dalam melawan, bahkan cenderung banyak menghindar.
Seperti menurut literature, Invidu yang aggressive dan mampu menguasai arena perkelahian (teritori) akan memunculkan individu yang kuat (dominan) dan lemah (submissive/ subordinat).  (djuanda, 2001)
Jika diperhatikan secara keseluruhan, perilaku yang sering muncul itu Tail flagging. Menurut literature, kecenderungan ikan cupang melakukan Tail Flagging ( mengibaskan ekor), merupakan bentuk ketidak nyamanan terhadap situasi. Dan berusaha untuk mengusir sesuatu yang dianggap pengganggu (Peter, 2000). Dari hasil pengamatan secara keseluruhan, kurang agresifnya ikan cupang terhadap lingkungan. Cupang yang ada sebagian besar itu cupang hias. Bila dibandingkan dengan literature, Menurut (Amaouri, 2007) kegemaran berkelahi Ikan cupang adu akan semakin memuncak apabila ikan cupang diletakkan di baskom, akuarium, toples, atau tempat pemeliharaan lain. Hal ini dikarenakan ikan cupang telah terbiasa hidup di tempat yang lebih nyaman bila dibandingkan dengan selokan atau tempat lainnya. Ketika melakukan pertarungan, ikan cupang jantan menghampiri lawan tandingnya. Kemudian ikan cupang jantan mempertontonkan sirip pada musuhnya. Sirip yang semula terlihat lemas dalam hitungan detik akan mengembang. Tidak hanya sirip yang dipertontonkan, tetapi sirip cadangan lain yaitu membrana branchiostegi dan tutup insang pada lengkungan leher juga ikut mengembang.
Sedangkan dalam data rataan satu kelas, perilaku yang paling sedikit dilakukan ialah Chase (mengejar lawan). Itu artinya, banyaknya ikan cupang hias lebih banyak dibandingkan dengan ikan cupang adu.



BAB 5
KESIMPULAN

            Dari praktikum yang dilakukan ada beberapa hal yang dapat ditarik kesimpulan: Secara morfologi., ikan cupang betina memiliki warna yang aga gelap dibandingkan dengan pejantan. yang terang seperti metalik. tujuannya untuk menarik betina (djuanda, 2002). Dari pengamatan, hanya ikan cupang kode A yang betina, selain dari itu pejantan
Setelah melakukan percobaan, perilaku agonistic ikan cupang yang sering muncul dalam rataan kelas yaitu perilaku yang ke 8 --Tail flagging ( Mengibaskan ekor). Sedangkan perilaku yang rendah, dimiliki oleh kode perilaku 3 Chase (mengajar lawan)
Dari data kelompok yang didapat, ternyata ikan cupang kode B, memiliki tingkat perilaku yang cukup agresif dibanding dengan yang lainnya, karena telah memenangkan di setiap tanding di beberapa ikan cupang. Oleh karena itu, pada ikan cupang B, bisa dikatanan memiliki sifat dominan dalam kelompok ini, atau superordinat. Sedangkan pada ikan cupang C, merupakan jenis yang super ordinal. Hali ini karena, pada ikan cupang C saat melakukan pertandingan, memiliki perilaku ogonistik yang melarikan diri.














BAB 6
DAFTAR PUSTAKA

Amauri, 2007. Affects Trophic Poisoning With Methyl Mercury On The Appetitive Elements Of The Agonistic Sequence In Fighting-Fish. From http://redalyc.jurnal.uaemex.mx/pdf/172/17210224.pdf. Diakses pada 22 Maret 2012. Pukul 03:00

Campbell, N. A, dkk. 2003.Biologi. Jakarta: Erlangga

Darmawat, dkk. 2003. Daya tetas dan laju pertumbuhan larva ikan hias betta slslendens di habitat buatan. From http://www.unri.ac.id/jurnal/jurnal_natur/vol5(2)/Yustina.pdf. Diakses pada tanggal 19 maret 2012. Pukul 18.30.

Dewantor, gema. 2001. Fekunditas Dan Produksi  Larvapadaikan  Cupang
(Betta Splendens Regan) Yang Berbeda  Umur Dan Pakan Alaminya. From http://iktiologi-indonesia.org/jurnal/1-2/07_0001.pdf. Diakses pada tanggal 20 Maret 2012. Pukul 20.40.

Djuanda, T. 2002. Dunia Ikan. Penerbit Armico. Bandung

Mc. Gregor, 2000. The Effect Of An Audience On Intrasexual Communicating in Male Siamese Fighting Betta Splendens. From http://beheco.oxfordjournals.org/content/12/3/283.full. Diakses pada 22 maret 2012.